Dulu masih teringat jelas di ingatan masa muda, bercucuran air mata di atas sajadah saat sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan, dan harapan seakan musnah. Badan terasa lemah, dada penuh sesak, dan pikiran? kosong. Ketika mental tidak siap menerima kenyataan, di situlah kita merasa tak berdaya di hadapan dunia.
Orang-orang sering berbicara tentang titik terendah, aku tidak yakin apa itu titik terendah, yang aku tahu saat itu, tidak ada rasa di dunia ini yang pernah aku rasakan seberat ini. Kusadari saat ini, itu bukanlah titik terendah, melainkan momen paling romantis dengan Tuhan. Terasa dekat, terasa tidak sanggup tanpa Allah, tempat kita menggantungkan segala harapan dan doa.
Terima kasih diriku yang dulu karena telah mampu melewati masa sulit, hingga sampai saat ini berkali-kali akupun mampu. Untuk saat ini mari kita lebih romantis kepada Sang Pencipta, Mengingat-Nya tidak hanya ketika luka, tetapi ketika semuanya baik-baik saja kita tetap haturkan syukur dalam setiap embusan nafas.
Keinginan untuk menulis mengantarkanku pada sebuah perjalanan. Layar ponselku menampilkan profil instagram JS. Khairen, entah mengapa nama JS. Khairen terlintas sebagai referensi,
Usap-usap ibu, pelukan Ayah, di atas Sajadah. Tiga tempat favorit untuk menangis, saat hidup membawa ke titik terendah - J.S Khairen dalam novel "rumah"
Ungkapan ini benar-benar membawaku kembali ke masa lalu. Mengingatkan kapan aku benar-benar tersedu-sedu di hapan Tuhan, tak berdaya, meruntuhkan segala kesombongan. Begitu romantis, meminta ke Sang Maha Mengabulkan. Bercerita kepada manusia aku tak sanggup, bercerita kepada Sang Maha Mendengarkanlah seharusnya.
Ungkapan itu benar-benar mengalirkan tulisan dari jemari ini, mungkin terlalu lama aku tidak mencurahkan isi perasaan dalam tulisan. Terimakasih J.S Khairen, malam ini terjadi begitu saja



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan Komentar Anda